Jakarta, 11 Januari 2017

Dari catatan dan pengamatan saya perilaku musim sepanjang 2016 hingga awal Janari 2017 ini menandakan pergerakan yang kembali normal (sesuai text book) dimana tercatat musim hujan mulai berjalan konsisten sebagai mana yang pernah saya pelajar di bangku SD dulu.. bahwa musim yang akhirannya “ber” itu adalah musim hujan (September – Desember). Konsistensi ini (sekali lagi dari pengamatan saya) sudah lama berjalan tidak konsisten, kadang di bulan-bulan “ber” tersebut malah banyak panas-nya. Dan ketika konsistensi cuaca ini kembali ke kondisi normal-nya, saya malah (dan mungkin banyak orang)  mempertanyakannya.. “kok tumben nih cuaca benerr“.. hehehe artinya ketika kita sudah terbiasa dengan in-konsistensi dan sudah mulai berkespektasi atas ketidakkonsisteanan ini malah ekspektasi kita terbiaskan oleh sang cuaca itu sendiri.

Memasuki bulan Januari, nuansa sendu musim hujan masih melekat di kota Jakarta, pagi yang biasanya selalu cerah sekarang mulai dirundung mendung dan tak terkadang turun hujan. Ini juga sebuah in-konsistensi yang sebenarnya tidak terlalu saya harapkan.. karena pagi hari  buatku pengennya cerah.. selain memberikan banyak kesempatan untuk berolahraga (outdor) sebelum ngantor cerah dipagi hari juga memberikan semangat untuk manjalani rutinitas kerjaan di kantor.. ya semacam mood booster sebelum beraktifitas lah kira-kira begitu..  sekali lagi ekspektasi saya terpatahkan oleh kondisi cuaca yang mulai tidak konsisten dengan in-konsistensinya.

Selain cuaca, in-konsistensi juga sering muncul dari yang namanya hubungan pertemanan.. Kadang saya berharap bahwa pertemanan ini bisa menjadi alternatif dari hubungan keluarga dan statusnya bisa dianggap setara. Karena pada dasarnya saya menganggap dua jenis hubungan ini berbeda dan bisa saling melengkapi. Jadi secara tidak sadar ekspetasi saya terhadap pertemanan ini kadang disejajarkan juga dengan dengan ekspetasi terhadap hubungan keluarga. Namun pagi ini dikala cuaca sedang tidak konsisten dan ketika mood tidak pada posisi terbaiknya, saya merasakan bahwa kedua hal ini sangatlah berbeda, terutama dalam ber-ekspektasi.. setelah saya ingat dan renungkan lagi.. banyak sekali ekspektasi terhadap pertemenan ini yang tidak meet dan match sama sekali..  sulit sekali menaruh harapan dalam pertemenan  dan pada akhirnya saya harus berulang kali berkompromi dengan hati untuk menerima bahwa “ah ini kan cuma pertemanan saja.. don’t expect too much laahh“..

Disisi lain, setelah saya renungkan dan resapi kembali sebenarnya keluarga lah tempat  yang paling nyaman buat saya, makanya umumnya hubungan  berkeluarga itu bisa lebih kekal dibanding pertemanan yang hilang dan timbul kapan saja. Hal ini juga didukung dengan mindset yang umum berlaku yaitu “Family First“.. tingkat toleransi dan ekspektasi dalam keluarga juga bisa lebih dikelola dengan lebih baik sehingga yang namanya kekecewaan itu lebih bisa diminimalisir. Perbedaan mendasar lainnya adalah rasa “cinta” yang melandasi hubungan keluarga yang tentunya kalau sudah cinta yaa segalanya akan terasa lebih nyaman dan indahh..

Soo.. dipagi nan sendu ini dalam cuaca yang sedang tidak konsisten dengan ketidakkonsistenannya, dengan kekeliruan pemahanan saya terhadap pertemenan serta kesadaran terhadap indah-nya hubungan keluarga maka saya memutuskan untuk mengembalikan lagi semua itu ke khittah-nya masing-masing.. biarlah cuaca berjalan sesukanyaa.. saya akan menikmati setiap perubahaannya.. biarlah pertemanan itu akan tetap layaknya hubungan pertemanan.. gak usah ngoyo dan berharap macam-macam.. dan saya akan mulai menikmati setiap detik kebahagiaan bersama keluarga yang saya cintaaii  “give full attention, doing best effort and put my familty first in every moment of my life

15672820_10211294539380739_1538759093023789627_n